Image sebuah negara merupakan cerminan dari "bagaimana" rupa sebuah negara. Secara global, bisa dibilang tergantung bagaimana pemerintahnya mengatur negaranya akan dibuat seperti apa. Tapi kalo kita lihat ke sisi yang lebih sempit lagi, image sebuah negara bisa terbentuk dari beribu-ribu aspek. Salah satunya adalah sisi desain arsitektur&urbannya, atau bahkan mungkin interior, karena "ruang" adalah salah satu syarat utama terjadinya sebuah aktifitas. Contohnya Roma, terkenal sebagai negara dengan arsitektur yang ngga akan ada matinya. Atau Chicago, yang terkenal akan banyak skylight-nya yg modern. Bahkan Mesir, terkenal akan piramida-nya, arsitektur kuno yang ngga akan lesap dmakan waktu.
Lalu bagaimana kita bisa mendefinisikan arsitektur "Indonesia"? Heritage architecture? apakah itu yang merupakan arsitektur "Indonesia"? Hari ini gw mendapatkan pandangan baru dari perspektif orang lain yang tak lain dan tak bukan adalah bos gw sendiri.
jd, conversation kami kira2 ky gini :
Bos : Hei ira, as far as I know, ur designs are very "indonesian", u know?
ira : well, I am "indonesian" (heheh)--> seriusan sambil cengengesan
trus
ira: how to tell?
bos : the way u use color&materials and also the shape
ira : yes, but how?
bos : ur design is very daring, experimental, and agresive. It's very "Indonesian"
ira : and compare to "singapore"?
bos : singaporean have more simple mind of design
bos : coz we're more influenced by the western style
gituuuuu katanya, tp gw msh tetep gak ngerti.
very daring, experimental, and agresive....apa karena org luar mengimplimentasikannya dengan cara pemerintah Indonesia mengendalikan Indonesia ya?? very daring, experimental, and agresive....heheh..(no offense).
Tapi mnurut gw jg, bisa jadi karena singapore punya terlalu banyak aturan membangun yang kadang2 bisa menghambat kreativitas dalam mendesain. Dan aturan2 tersebut bersifat mutlak. jadi kadang waktu pengerjaan sebuah proyek lebih banyak habis di komplementari terhadap aturan2 tersebut, sehingga ketika sampai di proses desain, designernya udh keburu mati gaya, jadinya desain yg keluar bukan merupakan hasil eksplorasi yang mendalam. Jadinya org2 sini lebih terbiasa dgn output seperti itu. Dan agak shock kalo ngeliat yang aneh dikit.
Dan masalah utama temen2 kantor gw emang di pertentangan antara aturan2 dan struktur. Beruntung gw punya ilmu yg lumayan soal struktur, heheh, jdnya gw tergolong yg paling cepet menyelesaikan komplementari terhadap aturan2 tersebut, jadinya gw punya waktu lebih byk untuk mengeksplorasi desain gw lebih mendalam. Yaaa.. mungkin karena itu jg ya? Lagian buat gw, memenuhi komplementari aturan2 tanpa mengorbankan desain, merupakan sebuah tantangan tersendiri.
tp klo gw bandingin desain gw ama desain yulivia (temen sekantor, org indo jg, tp udh 9 thn tinggal dsingapore) emg siy, warna,material&bentuk yg gw pake dalam desain2 gw, jauh lebih berani, lebih bold, lebih berteriak.
but that's who I am rite??? And I'm proud to be "Indonesian" architect. Ternyata kemanapun gw pergi, jiwa Indonesia gw tetep nempel, heheh..
tapi ujung2nya bos gw bilang gini :
"so, I think, perhaps, u could try to tone down ur design a bit..."
sigh!! iya iya.... secara pasar dsini emg singaporean, mau gak mau, "menyesuaikan"... Mudah2an gak sampe "membunuh".