Sophisticity's posts with tag: archi-fuckin-tecture
Image sebuah negara merupakan cerminan dari "bagaimana" rupa sebuah negara. Secara global, bisa dibilang tergantung bagaimana pemerintahnya mengatur negaranya akan dibuat seperti apa. Tapi kalo kita lihat ke sisi yang lebih sempit lagi, image sebuah negara bisa terbentuk dari beribu-ribu aspek. Salah satunya adalah sisi desain arsitektur&urbannya, atau bahkan mungkin interior, karena "ruang" adalah salah satu syarat utama terjadinya sebuah aktifitas. Contohnya Roma, terkenal sebagai negara dengan arsitektur yang ngga akan ada matinya. Atau Chicago, yang terkenal akan banyak skylight-nya yg modern. Bahkan Mesir, terkenal akan piramida-nya, arsitektur kuno yang ngga akan lesap dmakan waktu.
Lalu bagaimana kita bisa mendefinisikan arsitektur "Indonesia"? Heritage architecture? apakah itu yang merupakan arsitektur "Indonesia"? Hari ini gw mendapatkan pandangan baru dari perspektif orang lain yang tak lain dan tak bukan adalah bos gw sendiri.
jd, conversation kami kira2 ky gini :
Bos : Hei ira, as far as I know, ur designs are very "indonesian", u know? ira : well, I am "indonesian" (heheh)--> seriusan sambil cengengesan trus ira: how to tell? bos : the way u use color&materials and also the shape ira : yes, but how? bos : ur design is very daring, experimental, and agresive. It's very "Indonesian" ira : and compare to "singapore"? bos : singaporean have more simple mind of design bos : coz we're more influenced by the western style gituuuuu katanya, tp gw msh tetep gak ngerti. very daring, experimental, and agresive....apa karena org luar mengimplimentasikannya dengan cara pemerintah Indonesia mengendalikan Indonesia ya?? very daring, experimental, and agresive....heheh..(no offense).
Tapi mnurut gw jg, bisa jadi karena singapore punya terlalu banyak aturan membangun yang kadang2 bisa menghambat kreativitas dalam mendesain. Dan aturan2 tersebut bersifat mutlak. jadi kadang waktu pengerjaan sebuah proyek lebih banyak habis di komplementari terhadap aturan2 tersebut, sehingga ketika sampai di proses desain, designernya udh keburu mati gaya, jadinya desain yg keluar bukan merupakan hasil eksplorasi yang mendalam. Jadinya org2 sini lebih terbiasa dgn output seperti itu. Dan agak shock kalo ngeliat yang aneh dikit.
Dan masalah utama temen2 kantor gw emang di pertentangan antara aturan2 dan struktur. Beruntung gw punya ilmu yg lumayan soal struktur, heheh, jdnya gw tergolong yg paling cepet menyelesaikan komplementari terhadap aturan2 tersebut, jadinya gw punya waktu lebih byk untuk mengeksplorasi desain gw lebih mendalam. Yaaa.. mungkin karena itu jg ya? Lagian buat gw, memenuhi komplementari aturan2 tanpa mengorbankan desain, merupakan sebuah tantangan tersendiri.
tp klo gw bandingin desain gw ama desain yulivia (temen sekantor, org indo jg, tp udh 9 thn tinggal dsingapore) emg siy, warna,material&bentuk yg gw pake dalam desain2 gw, jauh lebih berani, lebih bold, lebih berteriak. but that's who I am rite??? And I'm proud to be "Indonesian" architect. Ternyata kemanapun gw pergi, jiwa Indonesia gw tetep nempel, heheh..
tapi ujung2nya bos gw bilang gini : "so, I think, perhaps, u could try to tone down ur design a bit..."
sigh!! iya iya.... secara pasar dsini emg singaporean, mau gak mau, "menyesuaikan"... Mudah2an gak sampe "membunuh".
|  | I have presentation coming up this saturday. So far, these are what I've been done with (for now) the living area. Need some helpfull comments, pliz Thnx |
|  | Kebetulan lg dapet klien yg agak nyentrik, yg mau tangga drumahnya menggunakan struktur kaca. Sekalian aja deh sharing info yg gw dapat, siapa tau bisa memberikan inspirasi. |
Studio apartemen merupakan tipe apartmen dengan luasan sekitar 300-600 sqft (25-60 m2).
Tipe hunian ini sangatlah "compact". Biasanya terdiri dari ruang tidur yang menyatu langsung dengan "living area" dan "dining area" dalam satu ruangan yang besar. Ditambah dengan utility area (kamar mandi dan ruang cuci serta dapur yang kecil), maka tipe hunian ini sangatlah cocok untuk dijadikan simbol hunian bagi para lajang individualistis yang menyukai simplicity dan practical habit dalam kehidupannya sehari-hari.
Gw selalu bermimpi bisa punya satuuuuuuuu aja unit studio apartmen, rasanya pasti nyaman bgt. Di lantai 7 or 11 dengan view yang oke. Hidup di dalam hunian yang "it's all about u" karena zona ruang yang tercipata dari tipe studio ini memang biasanya memiliki karakter individualistis. Ruang tidur, ruang tamu, ruang makan, semuanya tanpa sekat. Seolah-olah semenjak kita memasuki entrance, kita memang dihadapkan oleh segala hal yang tentang diri kita sendiri tanpa ada yang disembunyikan.
Dalam project ini, gw mengerjakan bangunan apartmen yang terdiri dari salah satunya unit tipe studio. Luas unit maksimal 600 sqft atau sekitar 55 m2. Berasa membuat layout rumah tipe kontrakan kalo di Indonesia, cuma yang ini kemasannya dibuat lebih mewah aja.
Lahan yang bisa dibangun untuk apartmen ini, total sekitar 2300 sqft (sekitar 200 m2). Di setiap lantainya harus terdiri dari 2 unit studio apartmen (600 sqft) dan 1 unit 2kamar (800 sqft). Karena bentuk tapaknya trapesium, jadi, gw membelah masa bangunan dengan bantuan shaft (tangga darurat, lift dan building utilities) menjadi 2 sayap. Sayap kanan gw peruntukkan bagi unit 800 sqft, sedangkan sayap kiri (yang bentuknya lebih square, supaya gampang membagi menjadi 2 unit) untuk 2 unit studio.
Ini masih denah konsep awal siy, jd msh berupa coretan aja. Belom tau bisa diterapkan atau tidak. Masih bolak-balik ke fasad bangunan jg. Rasanya gw terlalu memaksimalkan lahan dan kurang memberikan profil pada fasad bangunannya. Takut nantinya fasad bangunan terlalu datar.
Masih berfikir juga untuk bikin satu atau dua alternatif lagi (sebelum bos gw balik dr China sabtu ini).
Any comments??
1. Arsitektur sebagai cerminan budaya
Arsitektur sebagai budaya material tidak hanya sekedar menyusun elemen-elemen material bangunan menjadi bangunan secara utuh, akan tetapi arsitektur juga berperan pada pembentukan ruang-ruang sosial dan simbolik, sebuah “ruang” menjadi cerminan dari perancang dan masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Sebagian besar studi arsitektur hanya melihat pada bentukan arsitektur yang monumental dan formal (istana, amphiteater, dst), belum banyak yang juga mempelajari ”arsitektur rakyat”. Diantara arsitek, Bernard Rudofsky (1964) adalah seorang yang dikenal sebagai promotor dari apresiasi terhadap estetika yang asli, original, bahkan juga organis, beliau menyebutnya sebagai ”Architecture Without Architect”. Sehingga sejak 20 tahun lalu studi tentang indigenous architecture (baca= arsitektur tradisional, arsitektur rakyat, arsitektur asli masyarakat) mulai dikembangkan bekerjasama dengan para antropolog.
Studi ini tidak hanya akan terbatas pada beberapa daerah yang mempunyai budaya asli saja, akan tetapi seluruh dunia dan pada seluruh kalangan. Sebut saja Le Corbusier, seorang pelopor arsitektur modern, yang menyatakan bahwa A house is a Machine to live in, seorang yang mendobrak seluruh dunia dengan jargon fungsionalismenya (segala sesuatu akan tampak indah jika berfungsi dengan baik). Bagaimanapun ekspansifnya Le Corbu akan tetapi semuanya tidak lepas dari perilaku dan sistem sosial yang dianutnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa arsitektur tidak pernah netral, akan tetapi akan selalu berhubungan dengan pengguna, budaya, serta konstruksi sosial yang ada dalam suatu masyarakat.
2. Arsitektur dan perubahan kebudayaan
Sebagaimana aspek budaya yang lain, arsitektur senantiasa berubah dan mengalami evolusi sepanjang masa. Namun demikian, terjadinya perubahan tidaklah merata pada setiap kelompok masyarakat/bangsa.
Dikotomi kebudayaan dalam Arsitektur
We may say that monuments-buildings of the grand design tradition-are built to impress either the populace with the power of the patron, or the peer group of designers and cognoscenti with the cleverness of the designer and the good taste of the patron. The folk tradition, on the other hand, is the direct and unself-conscious translation into physical form of a culture, its needs and values –as well as the desires, dreams, and passions of the people. It is the world view writ small, the “ideal” environment of a people expressed in buildings and settlements, with no designer, artist, or architect with an axe to grind (although to what extent the designer is really a form giver is a moot point). The folk tradition is much more closely related to the culture of the majority and life as it is really lived than is the grand design tradition, which represents the culture of the elite. The folk tradition also represents the bulk of the built environment. (Amos Rapoport, 1969)
Arsitektur sebagai salah satu proses dan produk budaya material, ternyata juga mengalami dikotomi sebagaimana diungkapkan oleh Amos Rapoport diatas. Budaya tinggi dalam arsitektur diwakili oleh bangunan-bangunan, seperti monumen-sebagai bangunan tradisi desain yang agung-yang merupakan representasi dari kekuasaan dan kejeniusan individual sang arsitek. Sebaliknya, budaya masyarakat merupakan ekspresi yang berhubungan dengan budaya mayoritas, tanpa adanya seorang desainer, seniman atau arsitek. Akan tetapi ”hidup” dalam masyarakat lebih dari tradisi desain yang agung yang merepresentasi budaya para elite. Budaya massa dalam arsitektur ini seringkali didefinisikan antara lain sebagai arsitektur primitif, arsitektur vernakular, architecture without architect, arsitektur tradisional, regional culture ataupun juga arsitektur pinggiran. Sedangkan budaya tinggi diwakili oleh arsitektur non-tradisional, arsitektur world culture, universal civilization.
Mainstream Akademik; Budaya Tinggi Vs Budaya Massa dalam Arsitektur
Pada mainstream akademik, dikotomi budaya dalam arsitektur ini tampak terlihat lebih jelas. Dikotomi yang meletakkan budaya massa dalam posisi marginal sampai hari ini belum juga bergeser. Hal semacam ini tidak akan terjadi jika kita mendudukkan klasifikasi budaya ini dalam porsi yang proporsional. Beberapa dikotomi dua kutub budaya ini akan lebih jelas, jika kita jabarkan satu persatu sebagai berikut:
Arsitektur vernacular dan arsitektur non-vernacular
Arsitektur vernakular sebagai representasi budaya massa seringkali disamakan dengan ”architecture without architect” yang memberi kesan bahwa arsitektur vernakular bukanlah porsi kerja seorang arsitek. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi porsi pembahasan arsitektur vernakular dalam mainstream akademik, terkecuali harus dibahas dalam suatu forum ”tersendiri”. Pun, forum-forum semacam ini belum banyak mampu memberi warna pada kurikulum pendidikan arsitektur S1 di Indonesia. Mata kuliah-mata kuliah teori dan sejarah arsitektur masih terlalu didominasi oleh arsitektur budaya tinggi dengan pengenalan ”monumen-monumen” arsitektur sepanjang sejarah. Bahkan jika kita melihat timeline yang ditawarkan mulai dari arsitektur Yunani, Romawi, hingga Post-modern, sedikit sekali yang membahas tentang arsitektur vernakular ini. Kalaupun ada, masih terbatas pada pengetahuan arsitektur nusantara, itupun didominasi oleh budaya tinggi arsitektur nusantara.
Regional culture dan universal civilization
Universal civilization yang diwakili oleh modernisme dewasa ini menumpukan harapan pada kemampuan nalar-rasional dan kemampuan mesin-teknologis yang acapkali semakin meminggirkan mereka yang tidak berada dalam arus utama ini. Regional culture dipandang sebagai sesuatu “yang lain” dan tidak “universal”. Tidak perlu kita ragukan lagi, modernisme telah menjadi warna dominan produk-produk arsitektur di abad 20-21 ini. Kota-kota besar kita didominasi bangunan-bangunan international style yang menafikan regional culture masing-masing. Dunia akademik pun seakan tidak bergeming dalam hal ini. Mainstream yang terbentuk masih saja mengekor universal civilization yang dianggap sebagai agen pembaharuan yang progresif sementara regional culture bersifat sementara.
Arsitektur tradisional dan arsitektur non-tradisional
Arsitektur tradisional yang merupakan representasi dari tradisi, nilai-nilai yang dianut, kepercayaan dalam masyarakat, dan lain-lain, sampai saat ini masih berada dalam posisi yang terpinggirkan dalam mainstream akademik. Pengetahuan tentang arsitektur tradisional masih terbatas pada produk jadi dan justru kehilangan ruh tradisionalnya sendiri ketika telah menjadi fix dan cenderung statis, bukannya sebagai ”proses hidup”. Arsitektur Jawa, misalnya yang pada perwujudannya didominasi oleh joglo sebagai budaya tinggi (=adiluhung) dan satunya lagi ”bukan joglo” yang diwakili oleh arsitektur kampung (yang sebenarnya memiliki kekayaan dan keragaman arsitektural yang tinggi dan diikuti oleh mayoritas dalam masyarakat) namun tidak banyak dikaji karena dianggap kurang ”bernilai” atau tidak adiluhung.
Sedangkan arsitektur non-tradisional yang didominasi oleh arus modernisme universal/universal civilization masih menjadi mainstream dominan dalam pendidikan S1 Arsitektur. Apalagi dengan bantuan media, baik literatur, media massa, elektronik, internet, dan lain-lain yang memudahkan kita untuk kapan saja melihat dan mengapresiasinya. Sementara media yang membahas arsitektur tradisional (baca=arsitektur nusantara) masih relatif terbatas. Bahkan sangat minim, dan itupun masih membahas arsitektur semacam joglo, tongkonan, dst yang cenderung elitis dan tidak menyentuh mayoritas masyarakat kita.
Kemarin malam, pulang dr tempat fitnes, sempet kepikiran... Kenapa ya, arsitek sering bgt disamain sama "tukang bangunan"???Makanya skrng kepikiran utk nyari2 definisi ARSITEKTUR dr wikipedia. Sekalian refresh pemahaman gw jg kalo2 ada org yg nanya (lagi) :"oooh arsitek ya... wo hebat! bs ngbangung gedung dong(literally)??"weleh2...kami me-RANCANG, bukan mem-BANGUN(literally)...sigh!..
NIH, BACA!!
Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut. Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis. Arsitektur adalah bidang multi-dispilin, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, politik, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, "Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni". Ia pun menambahkan bahwa seorang arsitek harus fasih di dalam bidang musik, astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme,fenomenologi strukturalisme, post-strukturalisme, dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat yang mempengaruhi arsitektur.
Oscar Niemeyer was born in Rio de Janeiro, Brazil, on the 15th December 1907. Oscar Niemeyer graduated from the Escola Nacional de Belas Artes in Rio de Janeiro in 1934. At this time Oscar Niemeyer joined a team of Brazilian architects collaborating with Le Corbusier on a new Ministry of Education and Health in Rio de Janeiro. Oscar Niemeyer worked with Lucio Costa and Le Corbusier till 1938 on this project. The corbusian influence is evident in the early works of Oscar Niemeyer. However, the architect gradually acguired his own style: the lightness of the curved forms created spaces that transformed the architectural scheme into something that was hitherto unknown; harmony, grace and elegance are the adjectives that are most appropriate to describe the work of Oscar Niemeyer. The adaptations produced by the architect to connect the baroque vocabulary with modernist architecture made possible formal experiences in spectacular volumes, executed by famous mathematicians including the Brazilian Joaquim Cardoso and the Italian Pier Luigi Nervi. The architecture of Brasilia, glimpsed in the sketches submitted by Lucio Costa for the international design contest for the new capital of Brazil, was the result of Oscar Niemeyer 's definitive impetus on the scene of the international history of contemporary architecture. The concave and convex domes of the National Congress and the columns of the Alvorada and Planalto palaces and the Supreme Court are highly original features. Combining these with the spectacular forms of the columns of the Cathedral and the palaces of Itamaraty and Justica, Oscar Niemeyer succeeded in closing the rectangular and symmetrical perspective formed by the repetition of the Esplanada and Ministry buildings. The use of reinforced concrete to form curves or as a shell and the unique use of the aesthetic possibilities of the straight line were translated into factories, skyscrapers, exhibition centres, residential areas, theatres, temples, head office buildings for public and private sector companies, universities, clubs, hospitals and buildings for various social schemes. Of these, the following are worthy of special mention: the Obra do Berco and residence on the Estrada das Canoas in Rio de Janeiro; The Duchen factory, the Copan building and Ibirapuera Park in Sao Paulo; the Pampulha architectural complex including a casino, restaurant and the Temple of St. Francis of Assisi, in Belo Horizonte; the design for the Hotel de Ouro Preto in Minas Gerais, the Caracas Museum in Venezuela, the headquarters building of the Communist Party in Paris, the head office of Editora Mondatori in Milan, the Constantine University in Algeria and the Niteroi Museum of Contemporary Art, Rio de Janeiro. The constant presence, of Oscar Niemeyer on the scene of international contemporary architecture from 1936 until the present time, has transformed him into a symbol of Brazil. Oscar Niemeyer has received numerous prizes and is the owner of a vast library containing books written by him and also by Stamo Papadaki, as well as editions of early editions of magazines on French and Italian architecture. While working on this project Oscar Niemeyer met the mayor of Brazil's wealthiest central state, Juscelino Kubitschek, who would later becom President of Brazil. As President, he appointed Oscar Niemeyer to be the chief architect of Brasilia, a project which occupied all of his time for many years. In 1939 Oscar Niemeyer and Costa designed the Brazilian pavilion at the New York World Fair. The series of buildings Oscar Niemeyer created till 1942 were heavily influenced by the Brazilian baroque style in architecture. Although associated primarily with his major masterpiece, Brasilia, the capital city of Brazil, Oscar Niemeyer had achieved early recognition from one of his mentors, Le Corbusier, going on to collaborate with him on one of the most important symbolic structures in the world, the United Nations Headquarters in New York. In the 1950's, Oscar Niemeyer designed an Aeronautical Research Center near Sao Paulo. In Europe, Oscar Niemeyer did an office building for Renault and in Italy, the Mondadori Editorial Office in Milan and the FATA Office Building in Turin. In Algiers, Oscar Niemeyer designed the Zoological Gardens, the University of Constantine, and the Foreign Office. From 1957 till 1959 Oscar Niemeyer was appointed architectural advisor to Nova Cap- an organisation charged with implenting Luis Costa's plans for Brazil's new capitol. The following year Oscar Niemeyer become Nova Cap's chief architect, designing most of the city's important buildings. The epoch of Niemeyers career, these buildings mark a period of creativity on modern symbolism. Five years later, in 1964, his political affiliation with the communist party forced him into exile in France. There Oscar Niemeyer constructed the building for the French communist party. With the end of the dictatorship Oscar Niemeyer returned to Brazil, teaching at the university of Rio de Janeiro and working in private practice. Recognized as one of the first to pioneer new concepts in architecture in this hemisphere, his designs are artistic gesture, with underlying logic and substance. His pursuit of great architecture linked to roots of his native land has resulted in new plastic forms and a lyricism in buildings, not only in Brazil, but around the world. For his lifetime achievements, the Pritzker Architecture Prize is bestowed. Although semi-retired, Oscar Niemeyer still works at the drawing board and welcomes young architects from all over the world. Oscar Niemeyer hopes to instill in them the sensitivity to aesthetics that allowed him to strive for beauty in the manipulation of architectural forms. Catedral- Metropolitana - '60 Its symbolic is altercated. Some say it is the thorncrown of Jesus, others think it's a blossom an others again say it looks like praying hands. But it is sure a masterpiece of Oscar Niemeyer. In front of the subsurface entrance there are modern stone-sculptures posed who should depict the "Four Disciples". The Entrance lies in the shadow to lead the believers from the darkness into the light. The interior is kept very artless, no embellishments and decoration destroy the ruminant atmosphere. One Altar, bright chairs and three big angelfigures made of Joao Ceschiatti which are hanging under the astrodome - that's all. Congresso Nacional - '72 The Congresso Nacional is Niemeyer's masterpiece. Here you can see the architectural concept of the convex and concave lines. The Utopian element of the flying saucers prove his aversion about the straight models of architecture. In the interior you can see numerous works of art and valuables. Palacio do Itamaratv - '43 The State Department is one of the most stylish buildings of Brasilia. Thin bows come up out of the water and seem to become larger in the refleaing water. In the bassin a sculpture of a meteor depicts the five parts of the world. At one side of the Itamarati appears a small, longish building which is made of hundreds of yellow, orange and brown tiles,, This was made of Sergio Bernades, the most liked architect of the president. Bernades was not afraid that Oscar Niemeyer became the only architect of Brasilia. His own House - '53 The house that Oscar Niemeyer built for himself in 1953 is an excellent example of Freeform Modernism, and an example that could only exist in Brazil. While the thin, flat roof slab and floor-to-ceiling glass walls are certainly central elements of many classic Modernist buildings particularly Mies's Famsworth House and Philip Johnson's Glass House, the curvilinear outlines in Niemeyer's residence are uniquely expressive of Brazilian heritage. The Colonial Baroque architecture that dominated Brazil before is very curvaceous, as is its local artwork. Moreover, the eroded hills, winding rovers and shorelines, and rolling landscape of Brazil itself are a clear inspiration for the forms in Niemeyer's work. As the architect himself states, 1943: Residencia Peixoto, 1943: Itamatary Palace, 1959: Pantheon, 1960: Catedral Metropolitana, 1960: Congreso Nacional, 1972: Le Havre Cultural Centre,1996: Apartamentos Building (Rio), 1996: Lady of Fatima The Creator's Words "Architecture must express the spirit of the technical and social forces that are predominant in a given epoch; but when such forces are not balances, the resulting conflict is prejudicial to the content of the work and to the work as a whole. Only with this in mind may we understand the nature of the plans and drawings which appear in this volume. I should have very much liked to be in a position to present a more realistic achievement: a kind of work which reflects not only refinements and comfort but also a positive collaboration between the architect and the whole society." "I have always," says Oscar Niemeyer, "accepted and respected all other schools of architecture, from the chill and elemental structures of Mies van der Rohe to the imagination and delirium of Gaudi. I must design what pleases me in a way that is naturally linked to my roots and the country of my origin.
Lagi deg-degan, menanti kabar.. denger2 satu proposal project yg gw kerjain sendirian, yg sebulan lalu open tender, berhasil menang, hihihi... Keringet dingin, ampe ga konsen kerja niy...(halah!) Perasaan menggelitik yg sensasinya tiada duanya...MENANTI KABAR KEMENANGAN!!!
Save the date for Another of our Exciting Designer's Party to be held on the 18 th Jan 2008 (Friday). Yummy Buffet Dinner Party will start @ 6.15pm We will present MORE of our new Beautiful, sophicated and exquisite collections; Designed with an artist's eye Made with a craftsman's hands An hour of outstanding and professional entertainer Alex T's will be here to surprise and share a fun-filled evening with all of you. Time: 6.00pm-8.00pm Dress Code: Smart & Casual A TD designed Door Gift awaits for you. Venue: 21 Orchard Boulevard #01-25 Park House Singapore 248645
|  | Minggu sore.. iseng2 pergi ke National Museum lihat2 Neues bauen new building international 1927-2002.. Tentang pergerakan architectural Modernism.
Ini beberapa hasil jepretan bermodalkan kamera HP 1,3 Mpix...
Enjoy...
Synopsis:The move towards architectural Modernism started in the 1920s in Germany as a protest against the imitation of historical styles that had predominated until the end of the First World War. The newly founded republic wanted to show the political break with the past in its architecture as well, using a new formal language and new building types and spatial concepts. The shape of a building should express its structure architecturally, and external form should follow internal function. At the same time, architects were responding to the complete change in social structures brought about by the war.
There was now a need to improve citizens’ living conditions to match the demands made by medicine for well lit and ventilated rooms. This led to features like larger window apertures and an adequate number of open spaces – often on the new flat roofs. Many things that every architect now takes for granted as basic planning rules were new design forms that emerged at this time. But the necessary buildings – houses and blocks of flats, housing estates, transport buildings, sports facilities, hospitals, schools, cultural centres, museums, theatres, opera houses, offices, department stores and industrial structures – were the same then as they are now, and thus comparable in terms of functional realization. Ecological notions of the environment are the only things that have since become considerably more significant.
The Weißenhof-Siedlung in Stuttgart was a landmark in the international triumphal progress of "Neues Bauen" – literally "New Building". It was the principal attraction at the 1927 Werkbund exhibition in Stuttgart DIE WOHNUNG (Housing): 17 architects from Belgium, Germany, France, Holland and Austria constructed 21 buildings containing 63 residential units in the former garden of a Stuttgart family of bakers called Weiß. As well as this housing estate, another part of the overall project took place near the Neues Schloss: the "International Planning and Model Exhibition of New Architecture". The organizers of the Werkbund project used this accompanying exhibition to put this new approach to architecture in its international context and thus to defend it against its numerous critics.
This exhibition, which in a different form toured 17 European cities from 1928-1930, was like an imaginary museum, bringing together example of modern buildings from America and Europe. It showed how much they were the same, and how they depended on each other in their simultaneous emergence. Some of the most famous architects of the 20th century, Mies van der Rohe, Le Corbusier, J.J.P. Oud and others made suggestions for this exhibition. Ludwig Hilberseimer hung image of over 500 exhibits by 129 architects and compiled the accompanying book "Internationale Neue Baukunst" (International New Architecture).
The "Neues Bauen International 1927 2002" exhibition is based on this project. But from the outset the aim was not to reconstruct the historical show completely. The curator, Prof. Karin Kirsch, opted to select those buildings and architects whose approach still stands up in architectural history today, after the second Modernist movement and post-Modernism, but also after the fall of the Iron Curtain and German reunification. They may even seem to be pointing to the future even more than they did in their own day. This has produced a new exhibition that permits an almost breathtaking overview of the icons of early Modern architecture. Examples by members of the Dutch avant-garde group "De Stijl" are particularly colourful. Gerrit Rietveld’s small Schröder/Schräder House in Utrecht, dating from 1924, and Cornelis van Eesteren’s designs, some of which he worked on with Theo van Doesburg, are real visual jewels. And we must also not forget Ludwig Mies van der Rohe’s enormous charcoal drawings, which he drew standing up against the wall, they have become the most exciting part of the exhibition artistically. Comparison with other charcoal or chalk drawings by Hans Poelzig and Hans Scharoun shows him to be the absolute master.
So the "Neues Bauen International 1927 2002" exhibition consists of 105 projects by 66 architects or groups of architects; they break down into seven thematic groups: detached houses and villas blocks of flats and housing estates buildings for education, sport, culture and health office, commercial and industrial buildings transport facilities special projects city of the future
The exhibition presents a 20th century invention at the beginning of the 21st century. Something that can be found in cities in many countries on almost all continents with certain deviations as a result of national characteristics and local conditions. The fact is that "Neues Bauen" developed into an international movement, a joint effort by European and Russian architects that made an impact on the United States, Latin America and the Near East.
Karin Kirsch, the curator of the exhibition, will give a lecture on the subject of the show on the day of the opening 19th of January 2006 at 9PM.
The 23 models for the exhibition were made by the Institute of Presentation and Design at Stuttgart University, Prof. Dr. Wolfgang Knoll.
The exhibition is accompanied by a catalogue with 216 pages, 133 illustrations and essays by Karin Kirsch, Jean-Louis Cohen and Manfred Sack. |
|  | Another Project Still On Going...
25 Jalan Geneng is the address Three and a half floor. meaning 3 floor plus 1 attic. The TOR itself : 1st floor : 3 bedroom (including maid's room) attached bathroom. Wet&Dry Kitchen Living Room Dining Room Household Shelter Store Room
2nd Floor : 3 bedroom (including Master Bedroom) attached bathroom Store Room Family Room
3rd Floor : 3 bedroom attached bathroom Store Room Family Room
Attic Floor : Entertainment Room Pool Table Wine Rack Trelis Jacuzzy Terrace Hanging Clothes Area.
So, I came out with these 2 alternatives. Proposal A : with maximum setback area usage, meaning, from all the setback that required, I don't left any space to built (well, just a little bit) Proposal B : After all the setback that required, I still put some setback on my own, to reach more open area.
From these two, I like the Proposal B more than Proposal A. (hopefully the client also like this Proposal B) They will decide which one they prefer by tomorrow. I'll let u guys know by then...
Btw, software I used : ArchiCAD Artlantis for the sun-study 3D-Max Photoshop
Check this out! Comments are allowed.. |
|  | Singapore Design Festival menggelar banyak sekali event, baik berupa exhibition maupun workshop & lecture. Gw ga bs dtg ke semua tempat & acara karena, (alasan klasik) sibuk kerja, heheh... Tp yg satu ini gw ga akan lewatkan, pameran karya2 arsitektur. Silahkan di lihat2 gambar yang berhasil gw jepret dgn bermodalkan camera dr handphone yg cuma berkekuatan 1,3 Mpx. No wonder, hasilnya pas2an bgt heheheh
Foto2 ini msh updating, nunggu upload foto dr kamera si Abang. Agak mendingan gambar2nya krn kita fotonya pake kamera nikkon berkekuatan 5 Mpx.. (penasaran kan??)
Enjoy...
Comments are allowed... |
Konferensi Dunia Perubahan Iklim di Bali, Desember 2007, masih menunggu waktu, tetapi pemanasan Bumi tidak dapat ditunggu lagi. Bencana melabrak tempat di mana pun tanpa pandang bulu, negara maju atau terbelakang, kaya atau miskin. Gelombang panas melanda Jepang, Perancis, dan beberapa negara Eropa lainnya. Banjir melanda Korea, Inggris, Sulawesi, dan Kalimantan justru saat musim panas. Badai laut menelan puluhan korban di kawasan Asia Pasifik. Mei 2003, Amerika dihantam topan Tornado sebanyak 562 kali jauh melebihi yang pernah terjadi pada waktu sebelumnya. Anomali cuaca muncul di segenap penjuru dunia dan sangat berpotensi membawa bencana. Juli 2003 Badan Meteorologi Dunia memperingatkan akibat pemanasan Bumi, cuaca ekstrem akan lebih sering muncul. Celakanya ancaman ini akan lebih banyak menimpa wilayah sekitar khatulistiwa, tempat negara berkembang umumnya berada. Pemanasan global Adalah Baron Jean Baptiste Fourier (1820), ahli matematika Perancis, sebagai penggagas pertama teori "gas rumah kaca" (greenhouse gases). Peran CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca sangat dominan dalam mengatur suhu planet. Konsentrasi CO2 atmosfer Bumi adalah yang paling memadai untuk menciptakan suhu ideal bagi kehidupan makhluk hidup. Konsentrasi CO>sub<2>res< >res< di Venus terlalu tinggi, suhu udara planet ini menjadi sangat tinggi dan tidak memungkinkan kehidupan berlangsung di sana. Situasi Mars sebaliknya, rendahnya konsentrasi CO2 membuat planet ini beku dan kehidupan juga tidak dimungkinkan. Ilmuwan sepakat, pemanasan Bumi disebabkan peningkatan CO2 atmosfer. Konsentrasi CO2 meningkat 25 persen setelah Revolusi Industri. Pusat pemantauan cuaca Amerika di Mauna Loa, Hawaii, memperlihatkan kenaikan CO2 18 persen dari tahun 1958 hingga 2002 dan menaikkan suhu dari 0,5 hingga 2 derajat Celsius. Pembangkit listrik di Amerika Serikat mengemisi 2,5 miliar ton CO2 per tahun, sementara kendaraan bermotor melepaskan 1,5 miliar ton per tahun. Ilmuwan mengklaim tanpa ada usaha mengurangi emisi CO2, suhu udara Amerika akan meningkat 1,5 hingga 4 derajat Celsius akhir abad ini. Negara maju gagal mematuhi Protokol Kyoto 1997 untuk memangkas 5 persen emisi CO2 hingga akhir 2012. Konferensi Lingkungan bulan Desember 2003 di Milan memprediksi emisi CO2 di negara maju justru meningkat 17 persen hingga akhir 2010 daripada 20 tahun lalu. Bangunan boros energi Studi konsultan energi Inggris, Max Fordam, mengungkap bahwa sektor bangunan mengonsumsi 50 persen total konsumsi minyak nasional negara maju, sektor transportasi mengonsumsi 25 persen, dan sisanya 25 persen dikonsumsi industri. Konsumsi minyak 50 persen di bangunan memperlihatkan betapa rentannya peran arsitek dalam menyumbang CO2 yang memicu pemanasan Bumi. Dengan suhu udara ekstrem saat musim dingin, negara maju menggunakan energi untuk pemanas ruang. Dengan suhu udara tidak ekstrem, masih berada di sekitar ambang kenyamanan, lebih dari 90 persen bangunan kantor di Jakarta bergantung pada AC yang konsumtif terhadap energi dan melepaskan jutaan ton CO2. Terlalu banyak energi dibuang untuk pendingin ruangan yang semestinya tidak perlu jika arsitek menguasai perancangan bangunan hemat energi sesuai dengan iklim setempat. Selain membuat pengguna bangunan kedinginan, sebagian besar kantor di Jakarta boros energi karena mematok suhu ruang terlalu rendah. Patokan suhu ruang masih meng-adopt standar asing, ASHRAE, yang terpaut 1 hingga 3 derajat lebih rendah daripada kebutuhan kenyamanan manusia Indonesia; berkonsekuensi membuang 10-30 persen lebih banyak energi. Penelitian di Bandung memperlihatkan suatu potensi penghematan energi; suhu nyaman manusia mendekati suhu udara luar. Dengan rancangan tepat, tidak satu pun bangunan di Bandung memerlukan AC. Dalam suatu seminar internasional, Dr Robert Vale, penulis buku laris Green Architecture, tercengang mendengar pemaparan saya tentang kemampuan survival manusia tropis seperti Indonesia menghadapi kelangkaan sumber minyak dunia jika benar-benar habis. Untuk kehidupan dasar, manusia tropis tidak memerlukan energi. Manusia tropis dapat hidup dengan pakaian normal di alam bebas atau hidup di bangunan tanpa dinding. Tidak seperti halnya mereka yang bermukim di iklim subtropis, manusia tropis dapat bertahan hidup tanpa pemanas atau pendingin ruangan dan tidak memerlukan energi. Dosa arsitek Arsitek merancang kota, mengubah wajah kota, mengukir permukaan tanah kota. Jika kota atau perumahan tidak disediakan trotoar atau jalur khusus sepeda, itu kesalahan arsitek. Arsiteklah yang menyebabkan warga kota menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak pendek karena tidak ada trotoar atau jalur sepeda. Arsiteklah yang mensterilkan kota dari pejalan kaki dan pengendara sepeda. Arsiteklah yang membuat kota boros energi dan mengemisi banyak CO2. Bus tingkat (double decker) di Eropa berisi 70 penumpang mengonsumsi 1/30 bahan bakar per orang per 100 km dibanding kendaraan pribadi ditumpangi satu orang. Bus berpenumpang 25 masih menghemat 1/10 bahan bakar dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi merupakan penyumbang CO2 terbesar di sektor transportasi. Lima liter bensin digunakan kendaraan pribadi akan melepas 15 kilogram CO2 ke udara. Tiga ratus ribu kendaraan pribadi di Jakarta melepas sekitar 4,5 ribu ton CO2 per-hari atau 1,5 juta ton per tahun. Tangan arsitek punya andil besar dalam hal ini. Tangan arsitek membuat kota miskin ruang terbuka, miskin vegetasi penyerap CO2. Tangan arsitek memanaskan kota karena terlalu banyak perkerasan aspal dan beton, memunculkan fenomena heat urban islands. Kota berperilaku seperti pulau yang memancarkan panas di tengah hamparan lahan yang lebih dingin. Kenaikan suhu kota dan kenaikan suhu lingkungan menyulitkan bangunan dapat nyaman tanpa AC. Semuanya adalah andil arsitek. Dalam buku terbarunya Adapting Buildings and Cities for Climate Change, Prof Susan Roaf mengutip pernyataan Sir David King, Kepala Penasihat Perdana Menteri Inggris bidang Sains, Climate change is now a greater threat to humanity than terrorism. Perubahan iklim (akibat pemanasan Bumi) jauh lebih berbahaya daripada terorisme. Arsitek berperan besar dalam memanaskan Bumi. Kekeliruan tangan arsitek akan memanaskan Bumi dan berpotensi lebih besar membasmi manusia dibandingkan dengan kemampuan teroris.
KOMPAS Selasa, 11 September 2007
 Di project ini, gw cuma desain kitchen&dining room di bagian belakang rumah, karena existing bangunannya ga memenuhi kebutuhan ruang tersebut. Konsepnya terbuka, orientasi ke backyard, supaya kalo yang punya rumah ngadain acara kumpul2 keluarga or temen, ruang belakang bisa terpakai secara maksimal. Makanya, walaupun lahan di belakang rumah masih luas, gw ga pake semuanya jd ruang tertutup. Bukaan yang lebar sengaja gw pakai folding door supayapintu bisa dibuka penuh. Ada sisa ruang juga di sebelah kiri dapur untuk meletakkan kursi buat duduk-duduk santai di sore hari.  Ini pers-view dari arah backyard. Folding door yg lebar terbuka ke 2 arah supaya yg punya rumah masih bisa menutup setengah bukaan, dan membuka yg setengah bukaan lainnya.  Sebagai kanopi gw pake struktur kayu kantilever yang di gantung ke "beam". Struktur kanopi gw kombinasikan dengan material stainless steel untuk memunculkan kesan modern. Trus sebagai atapnya masih optional : 1. Pakai fiber glass warna abu-abu 2. Pakai sandblasted glass (supaya kalo ujan ga terlalu berisik)  Folding door di sisi yg lebih pendek terbuka ke satu arah saja. Supaya gak repot dan terlalu banyak lipatan2 pintu. Kalau sewaktu2 folding door yg lebar mau ditutup penuh, maka bukaan yang lebar dan maksimal msh bs dicapai dari si folding door ini.  Atap kitchen&dining diusahakan supaya ngga ngutak-ngutik atap bangunan existing, untuk menekan budget. Maka dipakailah atap beton yang ditopang oleh 2 kolom tambahan di sisi paling luar. Mudah2an kuat, hehehe... Karena dapur ini menghalangi dinding kamar mandi, jadi, jendela buat ventilasi udara kamar mandi dinaikkan sedikit di atas level atap beton.  Selesai membahas bagian luar, sekarang yuuux kita masuk ke bagian dalam ruangan.  Silahkan dilihat....  Begitu kira2... Kalo ada kritik, masukan, dan opini, silahkan, jangan segan2.  O iya,maaf ya renderannya msh polos, soalnya belom sempet bikin yg maksimal... Selamat menghujat!! :)
My reference architect for my next project. Hm... have u any idea what particularly things I have to consider based on this video. This project already makes me even crazier than to 3 glasses of Heineken. hehehehe... Lighting? opening? materials? what so on??
And by the way, starting from today, I am both architecture designer and Interior Designer (yeeaaah!!). Oh well, should I happy or I shouldn't?? Consider my job will be twice as much as before. Other than that, I love interior detaillings. Import.flv (17.4 MB)
I wonder how does it feel to eat in the Toilet, lol Import.flv (881 KB)
| |