Sophisticity's posts with tag: from my insanity
Ini bkn tulisan ttg pelajaran struktus bahasa inggris, hehehe... Cuma beberapa waktu belakangan ini begitu banyak hal dan banyak temen2 yang seolah2 membuka lembaran demi lembaran masa lalu gw.
Mulai dari ketemu temen SMP, cewe yang gak pernah gw kenal deket sama sekali, tiba2 email gw, bilang klo dia skrng lg di Spore untuk training kantor, dan ngajak ketemuan, minta temenin keliling2 Spore. Agak lucu niy, gw sama sekali gak pernah ngobrol banyak ama dia waktu SMP. Trus waktu ketemuan minggu lalu, kita jd banyak bgt ngobrol ini-itu. Dia cerita klo dia sempet pacaran sama salah satu mantan gw waktu SMP. Padahal seinget gw, gw ga punya banyak mantan waktu SMP. Trus pada akhirnya mereka putus karena, mantan gw masih terus2an ngomong ttg gw, temen gw ini mundur, karena tertekan terus2an dibanding2in ama gw, hahahah... SMP emg udh segitunya pacaran? gw nyantai2 aja deh kayanya.
Jadi inget kejadian baru2 ini, waktu pertama kali dikenalin sama pacar barunya mantan gw yg terakhir (6 thn paaran, harus kandas di tengah jalan, memilih untuk menyerah pada keadaan, CUPU, but now I think that's the best way, hahaha). Sebelum akhirnya bertatap muka langsung sama si New Kid On The Block itu, gw udh lumayan banyak denger hal tentang dia dari mantan gw sendiri dan dari temen2 yg lain jg. Sempet ngintip Friendster-nya jg (ya ya ya.. I know what u guys thinking.. I so fucking biatttchhhhh). Sampe akhirnya kami berhadapan langsung, dan kenalan. ENG ING ENG...
Sesaat setelah mereka (mantan gw&si NKOTB) berlalu, gw bilang ke temen gw : "kok, gak cantik ya?" SHIT!!!! dari sekian banyak pertanyaan dan segala curiosity yang mengendap di otak gw selama ini tentang tuh cewe, pertanyaan yang pertama keluar dari mulut gw adalah pertanyaan terbodoh. I'm totally Biatcchhhh-ing!! Terus temen gw bilang : "Emang siapa yg bilang dia cantik?" Sepersekian detik gw bertanya sama diri sendiri "iya ya... siapa yg bilang dia cantik??" Dan setelah perdebatan singkat selama beberapa detik, akhirnya keluar statement dr mulut temen gw yang sempet bikin gw DIAM. "iya iya..masih cakepan elo.." Di sela2 keterdiaman gw, temen gw bilang lagi "Happy to hear that huh?" Dan gw pun mulai mikir dalam diam. YUP!!! I guess I am happy to hear that HAHAHAHAHAHAH I'm totally fucking biaaaattttccchhh. Yaaah at least one oh my past present tenses has been released now. As simple as that. Kayanya sebelumnya gw dihantui sama beribu-ribu pertanyaan ttg si NKOTB itu. Tentang apakah dia lebih baik dr gw?, lebih care dr gw?, lebih CANTIK dari gw?, lebih menarik dr gw? lebih asik dari gw? lebih bagus sense of desain-nya dari gw?, lebih pengertian dari gw? dll dll dll... But again, mungkin gw harus menggaris-bawahi statement bahwa : Every person is unique Sambil terus2an meyakinkan diri sendiri bahwa putusnya hubungan gw&mantan gw itu adalah secara baik2 dan emang semata2 karena perbedaan keyakinan, bukan karena gw maupun dia kurang baik, kurang care, kurang CAKEP, kurang sayang dll dll dll. Kami cuma 2 manusia yang pada akhirnya hars menyerah pada keadaan, mungkin sama2 cape, and as we all know, we must free up these tired soul, before the sadness kills us both, rite??
Waktu gw ceritain ini ke si Abang, dia cuma ketawa puas, ngeledek gw, SIAL!!
Padahal mantan gw jg bilang, kalo si NKOTB itu sempet protes gara2 nama gw di phonebook HP mantan gw msh appear berupa nama panggilan intim kami dulu. Padahal masalah biasa ya, cuma kadang gak semua org bs nganggap itu biasa siy..
I guess it's all about what's on ur mind anyway.. Dan skrng gw tau gimana perasaan temen SMP gw yang putus ama mantan gw gara2 stress hubungannya msh dibayang2in ama sosok gw. Dan gw jg ngerti perasaan mantan gw waktu pertama kali gw kenalin ama Si Abang. Dan gw jg ngerti perasaan Si Abang yg msh suka jelous dan BT sama segala hal ttg mantan gw. Dan gw jg ngerti knp gw punya perasaan ky gin ke si Abang, ke mantan gw, ke si NKOTB dan ke temen SMP gw itui. sometimes u just have to jump out of ur box just to see how's the box looks like.. sigh...
Past will still be the past untill u realize what u've done wrong and u can still feel it is wrong rite now. Apologize ur self and move on, that will be the only way.
Akhirnya ada waktu jg buat ng-MP lagi. fuih! after so many here and there, this and that, yup, it's the projects things, what else??? ng-gym pun juga udh jarang bgt, gw berasa sumbangan sosial ke California Fitness, sial!!
Beberapa minggu belakangan ini hampir ga pernah ada waktu buat online sekedar iseng, apalagi ng-MP. Kerjaan kantor gak ada abisnya, kelar satu proyek, nambah dua proyek. ketemu klien, site visiting, make drawings, site visiting (AGAIN), konsep desain, hunting material, presentasi, revisi, hunting material (AGAIN), presentasi lg, nyusun approval schedule, bikin detaillings drawings for my special feature design, site supervising (sometimes with with klien), serah terima project. And I could be getting more than 1 of those steps in at the same time... Specially for these past (and future) view months.
Kadang di tengah2 kesibukan itu, harus berhadapan dgn klien yg ok, kadang jg yg nyebelin(yg cm menjadikan gw budak gambarnya doank, krn sebagus apapun desain gw, pada akhirnya dia banyak ngerubah sampe2 itu bukan desain gw lagi, sucks! but no choice, I must do it)
Kadang jg di tengah2 kesibukan itu, si bos begitu baik, kadang jg nyebelin abis2an. Udh tau presentasi udh tinggal beberapa jam doank, eeeeh minta gw ngrubah material udh kaya nyuruh gw ganti baju. Ngga ngerti banget kali, kalo untuk ngrubah material, ga segampang gw masuk toilet trus kunci pintu (gak ush dkunci jg ga akan ada yg protes) trus ganti deh tuh baju, It's just.. kadang kan kita harus ngulang proses rendering dr awal, ck ck ck ck... enaknya jadi bos...
Kadang jg di tengah2 kesibukan itu, mood gw yg ga bisa di ajak kompromi. Kadang lg melow bgt, sensi bgt, bt banget, galak bgt. Untungnya ga mempengaruhi kualitas kerja gw siy so far. Paling2 mempengaruhi kualitas chatting ama si Abang, heheh
Just feeling tired sometimes with all these routinities, over and over again. Need some rest from all these hec tic(s). Tp minggu kemaren sempet dimanja ama bos, gw dikasih voucher 1,5 hour massage session di "Sylvia's Secret". Such a cool place, with outdoor shower bernuansa tripocal, huhuhu... mau lg.. Gw pijat minggu pagi jam 11-14. Abis itu straight away back home, dan gw langsung tertidur pulas ampe jam 8 malem...hahah.. the best sleep I ever had since these past few weeks for sure.
Things going so well down here, yeah at least for these past few weeks. The good thing is, kesibukan yg luar biasa ini justru membuat gw lupa sama beberapa masalah berat dalam hidup gw. Asiknya lagi, temen2 kantor yg caring abis, baik soal kerjaan, maupun hal2 di luar kerjaan. They are one of few good things ever happened to me this year, 2008...
2008... merupakan tahun yg paling menentukan hidup mati gw (hiperbolis bgt ga siy??). Kalau gw berhasil melewati thn ini dengan "selamat", then everything's will be just perfect. My carrier, my family, my love life.. all depends on this year. So should I feel myself unlucky or just to soon so say that?nobody knows.. Rasanya kaya lg berenang di lautan lepas menuju pulau impian, pulau yg penuh dengan segala hal yang lo mau dan lo butuhkan untuk bertahan hidup (singkat kata: IDEAL). Tapi pulau itu dikelilingi oleh lingkaran garis tipis habitat hiu2 ganas yg kelaparan, siap melahap dalam sekejap. Kalo gw punya helicopter siy ga masalah, terbang ajah, heheh.. masalahnya gw cuma punya pelampung dan swimming suit (ini jg nyewa, haha), so.. should I go through or not? Well that's another questions. 99.9% nurani gw berkata, "whatever happened, happened, so just swim over to ur dream island, everything's gonna be just fine" sometimes it said as another words : "when it's come the time for u to die, u'll die anyway, anyhow, anytime, no matter what, so just do it!!" . And as the perfect independent girl, I kept thinking : "I'm going to die anyway, so die trying!!". But this is what my brain keeps saying : "Eat, drink, and be merry, for tomorrow we die". Since swimming is one of my favourite sports, so I guess I'll take my chances to enjoy this dangerous trip to my dream island. I take it as my another carpe diem moment of my life. WISH ME LUCK, okay!! (as I took my swimming suit and jump unto the sea) Wish to see u at my dream island :)
The star's begin to shine again But this special moment is not for me, or for u, but for someone else And I can't help but wait
The rain's hardly to come down and touch the ground And I feel it's going to be a long summer time And I can't help but wait
Why am I really want to get it, When all I can do is waiting? Why am I really want to have it, When all I can do is waiting? Why is the world being so unfair, When all I can do is waiting?
I'm cold when everyone else's feeling warmth And I can't help but wait
Siang tadi gw chatting sama bos gw yg skrng masih di China. Dia curhat panjang lebar ttg visi-nya ke depan nanti. He said : It's gonna be an interesting 2008.
Kantor gw mulai buka cabang di China bulan ini, so, udh kebayang, BETAPA INTERESTING"-nya this 2008 would be. Sigh! Kerjaan di dalam negeri ajee udh ribetnya setengah mampussss...
Basicly I'm very happy of my office progress. quite fast-moving I can tell.
Sekarang gw lg ketiban Pilot-Project buat desain apartemen 4 lantai. setiap lantainya terdiri dari 3 unit. Salah satu unitnya berluaskan 800 sqft, dan yg 2 unit lainnya masing2 600 sqft(tipe studio). Ini project apartmen yg pertama diambil kantor gw, setelah kira2 8 thn selalu menangani project landed-house(private landed property). Sepertinya bos gw mau lebih mengembangkan usahanya ke lahan yg lebih basah. Mudah2an gw bs mengemban tugas ini dengan sebaik2nya (amin). Udh cukup pusing mikirin GFA dan building setback. F**ked up regulations (maaf). Belakangan ini aja sampe ga sempet buka2 MP bahkan cuma untuk sekedar upload foto2 (teuteup NARSIS!!).
My boss also offer me to apply PR (Permanent Residence) dalam waktu dekat ini. Dan gw yg msh bimbang, gak tau, mw ambil kesempatan ini apa engga. Karena gw sendiri belom tau apakah gw akan tinggal menetap lama dsini atau engga. Brasa msh banyak tempat2 yg mau gw hinggapi. Disamping masih belum tau jg keuntungannya bisa seberapa dashyat dibanding kerugiannya. Hm... still have to think, ask, and consider (and pray) a lot I guess.
People are so unpredictible. Bahkan se-kalem-kalem-nya sobat sekantor gw ini, dia msh bisa ngomel2. Dia baru aja dikecewakan oleh sahabatnya sendiri. Alhasil, sore td, sepulang kerja, dibalik kemudi, sepanjang jalan dari kantor sampe PIE Lavender dia ngomel2 gak jelas. Akhirnya setelah agak reda ngomel2nya, gw tanya : "r u finished?", dia jawab : "no...",tapi cuma menghela nafas panjang, sepertinya udh kehabisan cacian&makian. gw tunggu sampe beberapa detik, dia bertanya kepada gw dan 2 org teman gw yg lain : "am I iritating to you from just now?", then I said : "hahaha... no laaaah", dgn logat singlish gw (yg sepertinya mulai kental, merusak british gw yg keren). Iritasi bahasa ini malah yg justru lebih mengiritasi bagi gw. Tapi at least dr pertanyaannya yg terakhir barusan, sangat mudah mengindikasikan sifatnya, gw tau inti permasalahan yg dihadapi temen gw ini. Jadi gw bilang ama dia : "It''s better expecting more to ur enemy than to ur ally...". Dia bilang : "Is it?". Oh well, is it???
Akhirnya gw jelaskan pandangan gw. Bahwa dalam hidup gw, banyak banget kejadian yang pada akhirnya bikin gw mikir untuk mulai berhenti berharap terlalu banyak sama sahabat sendiri.
Sadar gak siy kalo sebenernya musuh kita memberikan pelajaran lebih banyak daripada teman kita sendiri?
Buat gw, terkadang lebih baik berharap lebih kepada musuh gw, dibanding kepada sobat gw sendiri. Paling ngga kalo harapan gw kepada musuh meleset, gak akan berasa sakit banget, dalam arti, sebagian nurani gw punya pembenaran yg terus2an berteriak "wajar lah!! walaubagaimanapun musuh adalah musuh, dia akan berusaha menjatuhkan lo dgn berbagai cara". Tapi kalo teman gw sendiri yang notabene udh jadi harapan gw sendiri malah mengecewakan, pastinya bakalan sakit banget, seperti sudah kodratnya seorang sahabat, IDEALnya HARUS selalu ada buat kita, menolong kita, bagaimanapun caranya. But life's never be that perfect, trust me! After all, u shouldn't expecting anything from ur friendship, rite??. I mean, that's what friends are for. Bahkan tanpa kita berharap lebih pun, namanya sobat, pasti dalam niatnya akan melakukan apa aja untuk menolong kita, tapi kan pada pelaksanannya menyesuaikan dengan situasi-kondisi, jadi ga usah pake berharap!! Yeaaah.. mungkin gak semua sobat bakalan melakukan apa aja juga.. just do what's best u can do as a bestfriend, Insya Allah semuanya akan berbalik ke kita nantinya, what goes around, comes around. Gw selalu percaya karma dari dulu. Whatever u do to the nature, that's what's nature will do to u. Konsep pertemanan jauh lebih bisa gw pahami dibanding konsep menikah (sigh!).
Terakhir kata, sebelum gw gantiin dia nyetir, parkirin mobilnya di gedung parkir deket Bugis Junction (sebelum dia menyenggol mobil lain -lagi-, maklum new-driving-license-holder, nyetirnya masih kacau bgt!! masih lebih jago jebolan SIM-nembak Polres Tangerang deh!! gw maksudnya,hehehe), gw bilang sama sobat gw :
"I always expecting more only to myself. Not that I feel that I don't need others. But for some more reason, people I know always dissapointed me. So no point for expecting more. Just do what's best to u and others, never expecting anything (more). It's fair enough for everybody"
Sejam kemudian di bawah payung hijau starbucks Bugis Junction, gw&temen2 gw pun udh bisa ceria lagi, tanpa berharap apa-apa -lagi- pada persahabatan kami, selain harapan semoga sampai kapanpun "hot-choco-almond"-nya Sturbucks masih akan tetap sehangat detik-detik kebersamaan kami saat itu.
Cheers for friendship, everybody!!!
Selama ini aku salah menilaimu. Aku buta akan perasaanku sendiri. Khilaf, mungkin itu alibi yang terlalu mudah untuk menundukkan emosimu. Jangan buat hatimu terlalu lama dipermainkan oleh waktu, karena hidup ini terlalu berharga untuk kita sia-siakan.
Aku sadar kita pernah terlalu larut dalam kesenangan, yang mungkin masih terlalu dini untuk kita nyatakan sebagai jalan hidup kita kala itu. Aku terlalu naif, kau terlalu ingin tahu, dan waktu terlalu cepat untuk kita menyadari bahwa hidup terlalu berharga untuk kita sia-siakan.
Maafkan aku karena aku pernah terlalu memanjakanmu dengan angan-angan berjuta mimpi. aku hanya tak ingin kau terlalu dimanjakan oleh nasib sehingga membuatmu tak lagi mau berusaha untuk berjuang. Hanya satu yang kupikirkan kala itu, hidup terlalu berharga untuk kita sia-siakan.
Jangan terlalu sadar diri, karena terkadang setengah mabuk bisa membuat kita berfikir lebih tinggi sampai ke langit ke tujuh. Tapi jangan juga terlalu terbuai dan menjadi lupa diri. Aku selalu disini, tak ingin lari lagi, karena hidup terlalu berharga untuk kita sia-siakan.
Jangan terlalu laju jika berjalan, sesekali tengoklah ke belakang, pastikan segalanya masih pada tempat dan peranannya masing-masing. Tapi jangan juga terlalu sering menengok ke belakang, bisa-bisa langkahmu akan selalu tersendat dan tidak melaju. Intinya, aku ingin kau tetap berjalan ke depan, bukan ke belakang, karena hidup ini terlalu berharga untuk kita sia-siakan.
Aku percaya padamu seperti halnya matahari yang selalu percaya bulan akan menggantikan kehadirannya tatkala senja tiba. Jadi tunjukkan padaku bahwa yg ada memang ada, dan yang tiada memang tiada. Karena aku tak ingin waktuku terbuang untuk menanti yang tak pasti. Bagiku, hidup ini terlalu berharga untuk kita sia-siakan.
-dedicated to my truly friend whose in love with someone else's lover-

Suatu sore yang indah (yang hanya datang beberapa kali setiap bulannya), saya mencoba meluangkan waktu untuk sekedar berkontemplasi. Inspirasi ini datang setelah hampir satu jam saya menyadari bahwa, artikel dalam surat kabar yang saya baca sore itu hampir semuanya membahas bencana-bencana alam yang kerap terjadi di dunia. Yang membuat saya lebih prihatin, karena hampir 80% dari bencana-bencana yang disebutkan di dalam surat kabar tersebut terjadi di negeri kita tercinta. Ada apa sih (dengan Cinta)? Apakah kitatidak dapat lagi hidup dalam kedamaian?
Kualitas hidup di lingkungan dewasa ini, telah sangat dalam memberikan teguran bahwa teknologi pembangunan memiliki sisi gelapnya sendiri-sendiri, apapun bentuknya. Percepatan perkembangan dan kemajuan teknologi selalu saja membuat manuasia semakin lupa akan kodratnya sebagai “sahabat” bagi alam. Akibatnya ekologi terancam, permasalahan semakin pelik, bencana terjadi dimana-mana. Masyarakat layaknya sebuah mata uang, memiliki dua sisi. Sisi pertama telah lama berteriak mengajak untuk memulai perbaikan kualitas lingkungan, sampai-sampai suaranya menjadi parau. Sementara di satu sisi yang lainnya, justru semakin berlomba-lomba merusak. Dalam dunia desain, khususnya aritektur, baik praktek maupun teori kehidupan urban seolah-olah telah menjadi kelinci-kelinci percobaan, bahan ekperimental, ajang eksplorasi. Pada kondisi ini saya memandang sebuah rancangan kota, apapun bentuknya merupakan juru kunci yang sangat menentukan kondisi lingkungan. Karena pada hakikatnya, produk arsitektur dan desain sudah pasti menempati sebuah ruang. Ruang bagi manusia. Ruang bagi masyarakat. Ruang yang bukan hanya dipengaruhi oleh keberadaan tapak (dalam hal ini lingkungan), melainkan juga akan memberikan pengaruh bagi tapak tersebut. Saya jadi ingat, sewaktu masa kuliah tingkat 2, sewaktu salah satu dosen kampus, memberikan satu referensi buku The Green Imperative : Natural Design for The Real World, karangan Victor Papanek. Di dalam buku tersebut, dijelaskan betapa seorang perancang yang baik idealnya memiliki kesadaran penuh untuk menciptakan karya yang tidak hanya sekedar bersifat empirik. Karena sebuah rancangan, apapun bentuknya akan mempengaruhi kehidupan banyak orang dalam satu periode tertentu. Dan dilihat dari sisi historis, tentunya kelak rancangan tersebut juga akan menjadi cerminan dari sebuah peradaban tertentu di masanya (masa di mana rancangan tersebut tercipta). Di dalam buku yang lain (masih dari referensi dosen yang sama), saya mencoba mengingat-ingat inti dari sebuah buku Timeless Way of Building, karangan Christopher Alexander. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa seorang perancang idealnya dapat menciptakan sebuah bangunan yang tidak hanya memiliki bentuk yang estetis, melainkan juga memiliki jiwa, spirit inside. Pada akhirnya membuat saya berasumsi, itulah mengapa bangunan-bangunan pada jaman terdahulu, lebih memiliki arti, memiliki jiwa dan abadi, ikatan emosional yang tinggi. Tidak seperti saat ini, dimana modernisme telah membuang poin-poin penting dalam tahapan merancang, seperti yang telah dijelaskan oleh para dosen kuliah hingga mulutnya berbusa. Berapa bagian dari perancang-perancang jaman sekarang yang masih mengikuti etika dalam merancang?? Percepatan moderinisme berbanding terbalik dengan kesadaran para perancang. Tidak ada lagi jiwa dalam hasil rancangannya. Padahal hasil rancangan seorang perancang harusnya dapat menjadi terjemahan kondisi batin perancang tersebut. Seperti argumen Sayyed Hossein Nasr dalam kutipan makalahnya yang berjudul The Contemporary Moslem and The Architectural Transformation of the Urban Enviroment of The Islamic World bahwa ”Lingkungan luar yang diciptakan manusia untuk dirinya sendiri tak lebih dari satu cerminan keadaan batinnya”. Sebuah desain lahir sebagai luapan emosi, karakter dan sifat-sifat dari perancangnya. Sehingga dapat dikatakan, dalam suatu waktu, desain tersebut akan menjadi identitas si perancang. Tapi hakikat manusia sebagai makhluk sosial, kepuasan batin akan tercapai jika desainnya dapat bermanfaat bagi orang lain, dipergunakan oleh orang lain, oleh masyarakat luas. Perancang juga berasosiasi dengan banyak pihak untuk mewujudkan idenya. Eksplorasi konsep, bentuk, material, dan tahapan pembangunan merupakan proses penentu apakah sebuah hasil rancangan akan memberikan pengaruh baik atau justru sebaliknya membawa bencana bagi lingkungan sekitarnya. Layaknya profesi kedokteran, dunia desain juga membutuhkan kode etik. Etika yang nantinya akan menjadi sebuah aturan main dalam merancang. Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) sudah cukup menaruh beban terhadap hal ini. Terbukti dengan selalu menjadikan Penataran Kode Etik sebagai salah satu agenda pada setiap pelantikan anggota-anggota barunya. Tetapi sekali lagi, seorang perancang, khususnya arsitek tidak pernah bekerja sendirian. Tapi setidaknya seorang perancang yang baik dapat menghasilkan hasil rancangan yang lebih bersahabat dengan alam. Sehingga alam dapat menyerukan kepada dunia untuk meniupkan angin perdamaian di seluruh penjuru dunia. peace&out Ira Sophia architectureIinteriorIlandscapeIdesignconsultant Members of Indonesian Architects Association (IAI)
Also can see on : http://beritahabitat.net/2007/05/09/etika-dalam-desain-aturan-main/
Hari ini acara kawinan adiknya si Abang... Gw brasa iklan rokok deh. Krn berkali2 gw hrs ngucapin (dalam hati) "mei.. Meibi yes meibi no" tiap kali ada keluarga si Abang yg nanya "kapan nyusul?" SIGH!! Emgnya nikah ga pake duit??ga pake pikiran?? Gw yakin dlm hati si Abang jg agak2 beban dtanya gt terus disepanjang acara itu(apa engga bang??). Tp qt berdua tetep stay cool,senyum,brusaha utk bs santai,hahaha... Whatever!! Dikenal sama bnyk bgt keluarga besarnya membuat gw canggung. Canggung krn sebab dr luar&dalam. Canggung luar krn pertanyaan org2 ttg gw, ttg gw&si Abang. Canggung dalam krn deep inside gw pun jg mulai mempertanyakan diri sndr. "kapan ya?" dan kalopun emg udh tiba saatnya, "siap ga ya gw berada di pelaminan itu" deg2an euy! hehe.. Mereka bilang seumuran gw udh pas buat merit. Apa gw yg trlalu santai menjalani hdp atau emg waktu brjalan amat cepat ya?? Sigh.. Who knows anyway?? Gosh! Stop talking about marriage plis.. Not 4 now at least,makes me nervous already.
Dark grey coat... Always reminds me of u, since u always wearing that cool-suite-u-well. Dark-black-coffee... that also very much reminds me of u. Dark Brown eye... u have it so much that I couldn't forget u even just for a second. Dark navy blue umbrella... always on ur hand in this whole raining season Dark state mind of mine... that's my biggest temptation about you!! sceaming at loud, laughing so fierceful, with a bunch of happiness u bring to me could turn my world around. But u're just that "something"!! something that I won't even dare to touch!! something that I won't even dare to think about!! Coz once u turn my world around, I won't be able to get back to this lane again... Trapped forever in your imaginary world, which is none of my world..at all temporary euphoria...
Untuk saat ini (mungkin sampe beberapa bulan ke depan), 10 Things I can't live without : (random, tanpa skala prioritas) 1. $$$$$ & Rp Rp Rp (krn bentar lg mw pulang ke Indo) 2. Handphone&koneksi Internet&music 3. Komputer&koneksi Internet&music 4. Tracing Paper&music 5. 3Dmax&music 6. Temen2 kantor yg "kreatif" sekali cara menjalani hidupnya&music 7. Payung, krn beberapa wkt belakangan ini sering hujan mendadak&music 8. Bus&MRT&music krn tarif taxi udh melonjak drastis 9. My 3D artist & his music (good taste) 10. building guidelines without music (coz if it is with music also won't help me)
Lagi iseng2 chatting sm tmn kantor, tiba2 mencuat pertanyaan dr tulisan tmn gw :
"when will u get married?"
Bulan Agustus nanti gw berencana cuti 3 mgg, dia pikir gw mw pulang ke Indo dan menikah, halah!! Pertanyaan gw bukan itu siy sebetulnya. Kalau masalah waktu, kapan aja kalo diniatkan bisa aja. Pertanyaan gw lebih kepada:
"why do I want to get married?"
Dasar org2 iseng, kmrn siang, lunch time, atas usul salah satu teman gw yg paling "kreatif", kita mengadakan survey. Peserta survey : temen2 dkantor gw, kantor tetangga, org2 asing di tempat makan, org2 lewat...(niat abis, SINTING ya??!! Gw aja bingung, bisa2nya gw tahan ama temen2 gw ini) Dari hasil surveynya kira2 jawaban mereka atas pertanyaan "why do I want to get married?" kaya gini :
What I'm thinking to get married is...
"Cewe gw 29 thn saat itu, kasian laah.." M, Singaporean, 24, nikah usia 23
"Match-made by my family" (dijodohin! Hareee geneee??!!?!) F, Singaporean, 29, nikah usia 27
"Sama2 udh mapan, udh cukup umur, apa lagi yg dicari?" M, Singaporean, 31, nikah usia 28
"I didn't think about anything...makin dipikirin, makin ga mau merit soalnya" (sigh!) M, Singaporean, 30, nikah usia 28
"karena nyokapnya si dia udh nagih2 terus, akibatnya si dia juga ikut2an cerewet, dan gw ga tahan lg dicerewetin" M, Singaporean, 28, nikah usia 27
"udh males nyari yg lebih sempurna dari si dia" F, Singaporean, 27, nikah usia 25
"krn gw anak satu2nya, kalo ga merit, nyokap-bokap dpt cucu dr siapa??" F, Singaporean, 30, nikah usia 28
"krn gw ga mw terlalu tua untuk melahirkan anak2 gw" F, Singaporean, 33, nikah usia 29 (belom punya anak)
"krn gw sayang si dia???" (ini statement diri or mempertanyakan diri sendiri ya??) M, Singaporean, 29, nikah usia 26
"because she was pregnant" (doh!) M, Singaporean, 27, nikah usia 25 "krn udh cukup modal, kapan lagi? kesempatan gak datang dua kali" (oh really??) M, Singaporean, 27, nikah usia 26
"krn si dia mw sekolah di Eropa, jd kita mengikat diri dulu" F, Singaporean, 27, nikah usia 24
"gak ada org yg lebih mengerti gw seperti dia mengerti gw di kehidupan ini" M, Singaporean, 27, nikah usia 27 (msh masa2 bulan madu niy kayanya) "because we love to each others" F, Singaporean, 30, nikah usia 26 (termasuk salah satu yg sukses "menikah")
OK OK.. cukup.. msh byk sebenernya...
Well, let's see.. apakah alasan2 itu cukup kuat untuk gw mulai memikirkan soal "menikah" (gosh!! I still have no idea about it!! weird huh??!)
All those married-talks always make me nervous. And so my other 2 crazy friends... Dan kami sepakat untuk tidak lagi membahas soal ini sampe beberapa bulan (atau thn??) ke depan. (sigh!) Ada yg punya alasan lain??
(harap lepas sejenak kacamata perspektif agama lo saat membaca topik ini)
setiap org punya jiwa buana yg harus diwujudkan suatu misi lo untuk hidup di dunia untuk memahami jiwa buana, jiwa meraih cita-cita, orang harus mempunyai keberanian. Mewujudkan impian memang tidak mudah, bahkan menakutkan.
“Memang menakutkan dalam mengejar impianmu, kau mungkin kehilangan semua yang telah kau dapatkan,”
Kita senantiasa bermimpi akan banyak hal semasa kecil. Dan sekarang, impian2 itu mulai pudar, seiring berjalannya waktu. Bila seseorang membuat keputusan, sebenarnya dia menyelam ke dalam arus kuat yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tak pernah dia impikan saat pertama kali membuat keputusan itu..
"hanya satu hal yang membuat mimpi tidak dapat diraih, yakni perasaan takut gagal."
Tapi jangan khawatir. Alam semesta akan membantu mewujudkan legenda pribadi kita bila kita berusaha mewujudkannya, yaitu dengan membaca pertanda-pertanda yang diberikan alam dan kemudian mempelajarinya untuk mengambil langkah selajutnya.
Alam akan berkomunikasi dengan kita dengan suatu bahasa universal (bahasa buana) yang seharusnya dipahami oleh kedua belah pihak, tiada batasan lagi, cukup dengarkan kata hati dan pertanda yg diberikan alam..
Sebelum sebuah mimpi terwujud, Jiwa Buana menguji semua yang telah dipelajari di sepanjang perjalanan. Ia melakukan hal ini bukan karena ia jahat, tapi supaya kita mampu - sebagai tambahan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita - menguasai pelajaran-pelajaran yang kita tekuni saat kita bergerak menuju mimpi itu. Itulah titik kebanyakan orang menyerah. Itulah titik saat, seperti yg kami ucapkan dalam bahasa gurun, orang mati kehausan ketika pohon2 palem sudah terlihat di cakrawala.. “Jangan pernah berhenti bermimpi, ikutilah pertanda.”
-Dari seseorang yg memiliki kemampuan membaca pertanda- Fully inspired by The Alchemist : Paulo Coelho
Aku bukan buta, hanya tak dapat melihat. Aku bukan tuli, hanya tak dapat mendengar Aku bukan bisu, hanya tak dapat berucap. Ada apa sebetulnya dengan jiwa kelanaku hari ini?
Apakah angin tak lagi mampu membisikkan pertanda yang berusaha kau sampaikan? Atau memang kau yang pergi begitu saja?
Gembala macam apa yang meninggalkan domba-dombanya di tanah yang gersang? Hei! Aku bertanya padamu! Apakah kau sudah tidak punya nurani lagi?
Aku bukan buta, hanya tak ingin melihat. Aku bukan tuli, hanya tak ingin mendengar Aku bukan bisu, hanya tak ingin berucap. Jiwa kelanaku sudah lelah!
Bahkan hujan menyentuh wajahku tanpa suara, Kali ini aku tahu pasti, ia telah bisu...
Harimau bukan raja jika tanpa taring! Begitupun aku... Bukan padang rumput jika tanpa gembala dan domba-dombanya.
Aku bukan buta, hanya benci melihat. Aku bukan tuli, hanya benci mendengar Aku bukan bisu, hanya benci berucap. Ku benci menjadi padang rumput yang harus menanti satu musim semi berikutnya untuk gembala-gembala muda yang belum mengerti cara mengikat domba-domba mereka. Aku benci menanti!!!!!
|  | Natal natal natal!!.. Semua org di Spore dilanda Xmast Fever.. Pohon natal dmana2, di sepanjang jln Orchard aja ga keitung deh ada brp dr mulai yg kecil ampe yg gede bgt. Pdhl yg bener2 ngrayain Natal paling cuma sedikit org.. Kaya dkantor gw aja... Gara2 acara Xmast Dinner Party di Kantor, terpaksa liburan pulang kampung cuma seminggu. Soalnya kalo gw ga dtg, cuti gw terancam unapproved, halah!! Padahal jelas dkantor gw yg natalan cuma 2 org, hahaha... Ada-ada aja... Jadi xmast eve, gw dkantor, semua tmn2 berpasang2an, ama pacar, ama istri&anak, gw sendiri!!halah!! Nyampe Spore jam 3pm gw lansg kkantor. Semua udh nunggu, termasuk makanan&minuman. Well this is what I called party!! FOODS!!!!... Udh kenyang makan2, kita kumpul druang meeting, tuker2an kado... Gw dpt Card Reader (spt nampak pd gambar). Thank God, gw ga jd beli card reader mgg lalu, hehehe...I've always got what I want! (for sure).. Selesai buka kado, kita rame2 hijrah ke KARAOKE... Nyanyi, makan, minum (wine campur beer campur soda, campur ice cake campur sushi campur junk food..penyiksaan luar biasa buat perut gw yg mulai membucit setelah pulang kampung)... 3 jam kemudian, gw berasa mual... mungkin krn makanan&minuman, mungkin krn perasaan gw yg kacau balau jg(seneng,sedih liat yg lain berpasang2an sementara gw sendirian). Tepat saat muka gw mulai memerah, gw cabut ke toilet...dan... JACKPOT!!! hahaha... Abis itu jegat taxi.. "...tampines st.82 pliz..." pulang! Nymape rmh ga inget tepatnya jam brp, langsung bobo... Bangun2 udh 25 dec jam 10 pagi (apa siang tuh ya??) Menyadari perut yg makin cihuy aja buncitnya, dan gw ga ada plan apa2 jg,jd pergi k gym: FITNES!! Selesai membakar lemak, sempet2nya jln2 d spanjang Orchard Road(literally), krn jln orchrd ditutup buat panggung&festival. Abis puas jln, ngacir ke Plaza Singapura mw cari Green Tea, tau2 ketemu 2 org temen gw (spore kecil boss!!). Keliling2 mall sambil cerita2 bentar. Abis itu trus pulang deh...
Mery Xmast everyone!!
|
|  | Waktu pulang kampung kemaren, gw menyempatkan diri singgah ke Hard Rock Cafe Jakarta. Di waktu siang&malam. Makin lama makin sucks ajah!! hahaha... Kalo malem byk ABG, kalo siang byk Oom2.. ck ck ck... |
Nostradamus, the most famous astrologer who ever lived, was born in France in 1503 and published his barely scrutable collection of prophecies, The Centuries, in 1555. Each four-line verse (or "quatrain") purported to foretell world events far into the future, and ever since Nostradamus' time devotees have claimed his work accurately predicted wars, natural disasters and the rise and fall of empires. Yet it is plain to see that Nostradamus couched his "prophetic" verses in language so obscure that the words can be, and have been, interpreted to mean almost anything. What's more, the interpreting is always done after the fact, with the benefit of hindsight, and with the concerted aim of proving the relevance of a given passage to an actual event. If the aftermaths of past catastrophes are any indication, in the coming weeks and months we can expect a bumber crop of arcane tracts purporting to show beyond doubt that Nostradamus foresaw the World Trade Center and Pentagon attacks of September 11, 2001. In fact, thanks to the efforts of anonymous Internet pranksters, the he-told-you-sos have already begun. "Spooky" quatrains allegedly foretelling the events of 9/11 with incredible specificity were circulating online within hours of the first jetliner crash in New York City — completely bogus quatrains, as it turned out. It wasn't a question of whether or not they accurately predicted anything; Nostradamus simply didn't write them. New York, the 'City of God'??? The first quatrain to hit email inboxes on 9/11 contained the prediction that a "great thunder" would be heard in the "City of God": "In the City of God there will be a great thunder, Two brothers torn apart by Chaos, while the fortress endures, the great leader will succumb", The third big war will begin when the big city is burning" - Nostradamus 1654 Let the interpreting begin. Assuming "the City of God" is New York City, then the "two brothers torn apart by Chaos" must be the fallen towers of the Word Trade Center. The "fortress" is clearly the Pentagon, the "great leader" succumbing to Chaos must be the United States of America, and "the third big war" can only mean World War III.
Spooky, right? Think again. Let's go back and apply a little intellectual honesty to our analysis. What earthly (or unearthly) justification could there possibly be for describing New York City as "the City of God?" Why would the great seer refer to the World Trade Center towers as "two brothers" when a more apt word like "buildings" or "monuments" — or even, egad, "towers" — is at hand? Granted, the word "fortress" is not a completely unreasonable moniker for the Pentagon, but by what stretch of the imagination could one justifiably assert that the United States "succumbed" to the 9/11 attacks? Faux Nostradamus Quibbling over individual words is futile anyway, given that Nostradamus didn't even write this passage. He died in 1566, nearly a hundred years before the date given, 1654. The quatrain in question is nowhere to be found in his entire published oeuvre. In a word, it's a hoax. More precisely, its attribution to Nostradamus is a hoax. The passage was lifted from a Web page (long since deleted from the server that originally hosted it) containing an essay written by college student Neil Marshall in 1996 entitled "Nostradamus : A Critical Analyst". In the essay itself, Marshall admits inventing the quatrain for the purpose of demonstrating — quite ironically, in light of the way it was subsequently misused — how a Nostradamus-like verse can be so cryptically couched as to lend itself to whatever interpretation one wishes to make. Interestingly, a variant of this faux prophecy turned up in the soc.culture.palestine newsgroup only one day after 9/11 under the heading "They followed his prediction." It went like this: In the City of God there will be a great thunder, Two brothers torn apart by Chaos, while the fortress endures, the great leader will succumb' 'The third big war will begin when the big city is burning' - Nostradamus 1654 ...on the 11 day of the 9 month that...two metal birds would crash into two tall statues...in the new city..and the world will end soon after" "From the book of Nostradamus" Here again, even though the text boasts all the pomp and musty vagueness one finds in Nostradamus' actual writings, it does not exist, in whole or in part, anywhere in The Centuries. This, too, is an Internet hoax, a cheeky elaboration on Neil Marshall's invented quatrain. 'Two steel birds' Our third example is "spookier" yet: Subject: Re: Nostradamus Century 6, Quatrain 97 Two steel birds will fall from the sky on the Metropolis. The sky will burn at forty-five degrees latitude. Fire approaches the great new city (New York City lies between 40-45 degrees) Immediately a huge, scattered flame leaps up. Within months, rivers will flow with blood. The undead will roam earth for little time. This passage, it turns out, is not entirely fake. Rather, it is what you might call an "imaginative revision" of an actual verse from The Centuries. The authentic passage on which it is based is usually translated from the French as follows: The sky will burn at forty-five degrees latitude, Fire approaches the great new city Immediately a huge, scattered flame leaps up When they want to have verification from the Normans. As you can see, Nostradamus made no mention of "two steel birds" in the original passage, nor did he predict that "the undead will roam the earth." As to the geographical location of New York City, it is found at exactly 40 degrees, 42 minutes, 51 seconds north latitude. So, while it isn't false to say that it lies "between 40-45 degrees," it is imprecise, not to mention an obvious, disingenous ploy to make what Nostradamus actually wrote ("The sky will burn at forty-five degrees latitude") seem germaine to the events of September 11, 2001. Nostradamus predicts World War III Specimen #4, also circulating via email, is merely an elaboration of the above: Nostradamus' prediction on WW3: "In the year of the new century and nine months, From the sky will come a great King of Terror... The sky will burn at forty-five degrees. Fire approaches the great new city..." "In the city of york there will be a great collapse, 2 twin brothers torn apart by chaos while the fortress falls the great leader will succumb third big war will begin when the big city is burning" - NOSTRADAMUS He said this will be bigger than the previous two. 2001 is the first year of the new century and this is the 9th month. New York is located at the 41st degree Latitude. Once again, a very few words actually written by Nostradamus — individual lines drawn from two disparate quatrains, in fact — have been taken out of context, rearranged, and supplemented with made-up lines by person(s) unknown to make them seem pertinent to the event. The result, as before, is pure bunk. Not even Nostradamus would want to take credit for this "prediction."
Further infos : http://www.nostradamus101.com/
Harta Karun Untuk Semua oleh Dewi Lestari Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: "Stuff �The Secret Lives of Everyday Things". Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir. Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil. Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke manakemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta. Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri? Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri. Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing. Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu? Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia. Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati. Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protocol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi. Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh. Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun', yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran. Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggapsampah. Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya... dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu? Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu. Banyak orang yang berkomentar pada saya, "Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri. Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah. Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari. Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.
 | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Semalem, lg agak kurang kerjaan, jdnya browsing2 film2 di internet. Tiba2 ngeliat di salah satu list-nya, satu film yg gw suka bgt dr dulu : The Butterfly Effect... Bukan cuma krn aktornya yg maen adalah Bang Aston, tp overall cerita film ini emg menarik. Jadi ceritanya si Bang Ashton punya kemampuan "to travel back in time". Dia memilih kembali ke masa kanak2nya terutama pd momen dimana dia merasa telah berbuat kesalahan yg bisa dbilang buruk, untuk kemudian merubahnya menjadi lebih baik di masa depan. Setelah beberapa kali berhasil kembali ke masa lalu, dan mngubah kesalahan, dia mulai menyadari bahwa, setiap kali dia mengubah satu momen buruk dmasa lalunya, maka hal buruk lainnya terjadi. Sehingga pd akhirnya dia hrs berulang2 kali kembali ke masa lalu, krn, dia tdk pernah merasa puas akan keadaan setelah dia "travel back time". Begitu seterusnya... sampe filmnya abis, hehehe... makanya film ini dkasih judul "The Butterfly Effect". Mengenai judul film ini, para ilmuwan punya caranya sendiri untuk menjelaskan "The Butterfly Effect". "The butterfly effect is a phrase that encapsulates the more technical notion of sensitive dependence on initial conditions in chaos theory. Small variations of the initial condition of a nonlinear dynamical system may produce large variations in the long term behavior of the system. So this is sometimes presented as esoteric behavior, but can be exhibited by very simple systems: for example, a ball placed at the crest of a hill might roll into any of several valleys depending on slight differences in initial position. The phrase refers to the idea that a butterfly's wings might create tiny changes in the atmosphere that ultimately cause a tornado to appear (or prevent a tornado from appearing). The flapping wing represents a small change in the initial condition of the system, which causes a chain of events leading to large-scale phenomena. Had the butterfly not flapped its wings, the trajectory of the system might have been vastly different. Recurrence, the approximate return of a system towards its initial conditions, together with sensitive dependence on initial conditions are the two main ingredients for chaotic motion. They have the practical consequence of making complex systems, such as the weather, difficult to predict past a certain time range (approximately a week in the case of weather). The concept of the butterfly effect is sometimes used in popular media dealing with the idea of time travel, usually inaccurately. Most time travel depictions simply fail to address butterfly effects. According to the actual theory, if history could be "changed" at all (so that one is not invoking something like the Novikov self-consistency principle which would ensure a fixed self-consistent timeline), the mere presence of the time travelers in the past would be enough to change short-term events (such as the weather) and would also have an unpredictable impact on the distant future, so that no one who travels into the past could ever return to the same version of reality he or she had come from and could have therefore not been able to travel in time, which would create a phenomenon known as time paradox." - http://en.wikipedia.org/wiki/Butterfly_effect-Kesimpulan yg bs gw ambil : "selalu ada seutas nadi makhluk lain dalam setiap utas nadi dlm tubuh lo, jd setiap hal kecil yg lo lakukan utk diri lo sendiri maupun utk org lain, MUTLAK akan memberi pengaruh bagi hidup lo maupun hidup org lain." I always believe in KARMA... I love this movie!!! 
| |